Hubungan antara Pertumbuhan Personal, Penyesuaian Diri, dan Stress
Dalam kehidupan manusia mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan adalah perubahan secara perlahan pada manusia dalam mengenal sesuatu secara keseluruhan kemudian mengenal bagian-bagian dari lingkungan sekitar itu yang dikemukakan oleh gestalt. Manusia dianugerahi kemampuan untuk meletakkan pertumbuhan karakter dalam kerangka keterbatasan, pertumbuhan karakter pada mulanya dipahami melalui konteks metapsikologi, yaitu sebuah usaha memahami manusia dari dinamika psikologi, berupa kecenderungan tempramental. Selain itu ada pula faktor yang mempengaruhi pertumbuhan personal yaitu faktor biologis, geografi dan kebudayaan khusus. Salah satu tahapan dalam pertumbuhan personal adalah penyesuaian diri.
Penyesuaian diri (adjusment) adalah suatu istilah yang sangat sulit didefinisikan karena penyesuaian diri punya banyak arti, kriteria untuk menilai penyesuaian diri pun tidak dapat dirumuskan dengan jelas. Lawan dari penyesuaian diri (adjustment) adalah ketidakmampuan diri (maladjustment). Kuatnya pengaruh pemikiran evolusi pada psikologi, maka penyesuaian diri disamakan dengan adaptasi, yaitu proses dimana organisme yang agak sederhana mematuhi tuntutan lingkungan. Menurut Fromm adaptasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu adaptasi statis dan adaptasi dinamik. Adaptasi statis digunakan untuk perubahan kebiasaan yang sederhana, contohnya orang yang pindah dari satu kota ke kota lain. Sedangkan adaptasi dinamik itu adalah situasi dimana seseorang menerima hal-hal meskipun menyakitkan, contohnya seorang anak laki-laki tunduk kepada perintah ayah yang keras dan mengancam.
Selain disamakan dengan adaptasi, penyesuaian diri juga bisa disebut sebagai penguasaan, yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengatur respons pribadi sedemikan rupa sehingga konflik,kesulitan, dan frustasi akan hilang dengan munculnya tingkah laku yang efisien. Sedangkan dari psikologi sendiri, penyesuaian diri memiliki banyak arti, antara lain pemuasan kebutuhan, keterampilan dalam menangani frustasi dan konflik, ketenangan pikiran/jiwa, bahkan pembentukan simtom. Penyesuaian diri bersifat relatif karena berbeda-beda dengan norma sosial dan budaya serta individu itu sendiri berbeda-beda dalam tingkah laku. Kriteria lain dalam penyesuaian diri yang baik adalah pengendalian diri sendiri yang berarti orang mengatur impuls-impuls, pikiran, kebiasaan, emosi dan tingkah laku berkaitan dengan prinsip yang dikenakan pada diri sendiri. Standar penilaian yang baik dari tingkat penyesuaian diri adalah pengendalian diri sendiri. Bila penyesuaian diri dalam lingkungan tidak dapat diimbangi salah satu akibatnya adalah stress.
Stress dalam pengertian umum adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dll. Stress dapat digolongkan menjadi beberapa bagian. Ada yang disebut dengan stress fisiologis dimana stress ini disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi jaringan organ, sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal. Selain itu ada juga yang disebut dengan stress proses pertumbuhan dan perkembangan. Stres dapat disebabkan oleh dua hal yaitu penyebab makro dan mikro. Penyebab makro itu menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan, contoh kematian. Sedangkan penyebab mikro itu menyangkut peristiwa kecil atau peristiwa sehari-hari.
Ada pula faktor-faktor yang menyebabkan stress yaitu faktor biologis dan sosial kultural. Setiap individu mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam menahan stress. Semua itu tergantung pada sifat dan hakikat stress yaitu intensitas, lokal, dan umum serta individu yang terkait dengan proses adaptasi.
Bila dilihat dari tipe kepribadian individu dibedakan menjadi dua yaitu tipe rentan dan tipe yang kebal. Ciri dari tipe yang rentan adalah emosional, terlalu percaya diri, terlalu waspada, cakap dalam memimpin, berorganisasi, sulit dipengaruhi, dll. Sedangkan ciri dari tipe yang kebal adalah tidak agresif, cara bicara tenang, bertindak tenang, ada keseimbangan antara waktu istirahat dengan waktu kerja, dll.
Dari segi psikologisnya sumber stress ada 4 yaitu frustasi, konflik, tekanan, krisis. Selain sumber stress ada juga tahapan stress yang pertama adalah stress paling ringan. Stress paling ringan ini disertai perasaan nafsu bekerja yang besar dan berlebihan. Tahap kedua sampai tahap keempat adalah stress yang disertai keluhan seperti bangun pagi tidak segar. Tahap kelima adalah tahap dimana stress ditandai dengan kelebihan fisik dan mental, tahap terakhir atau tahap keenam adalah tahap yang paling berat yaitu tahap dengan tanda-tanda seperti jantung berdebar keras, sesak napas, dan pingsan.
Ada tekhnik singkat untuk menghilangkan stress yaitu melakukan pernapasan dalam, mandi santai dalam bath, tertawa, pijat, membaca, istirahat teratur, ngobrol. Teknik ini adalah teknik yang dikemukakan oleh Dadang Hawari.
Jadi dapat disimpulkan bahwa antara pertumbuhan personal, penyesuaian diri dan stress memiliki keterkaitan.
Sumber : Kesehatan Mental 1 oleh Drs. Yostinus Semium.OFM
Psikologi Untuk Keperawatan oleh Drs. Sunaryo,M.Kes
Tidak ada komentar:
Posting Komentar